Kita semua pasti merasa ngeri mendengar kabar penyekapan dan penyiksaan yang dialami seorang perempuan di Bandung. Pelaku sudah ditangkap, dan kita berharap hukum ditegakkan seadil-adilnya. Tapi, setelah rasa marah sedikit mereda, ada satu pertanyaan yang mengganjal: bagaimana mungkin kekerasan sekejam itu bisa terjadi selama bertahun-tahun tanpa ada yang menyelamatkan?
Kekerasan yang Terencana
Dalam podcast Denny Sumargo, keluarga korban menceritakan bagaimana pelaku secara sistematis mengisolasi korban. Bukan hanya fisik, tapi juga mental. Korban dijauhkan dari keluarga, teman, bahkan akses untuk meminta tolong. Ini bukan kekerasan spontan, melainkan relasi kuasa yang dirancang untuk mengontrol penuh hidup korban. Pelaku bahkan melukai mata korban agar ia tidak bisa melihat dan mencari jalan keluar.
Praktik seperti ini dikenal dengan istilah coercive control, di mana korban dibuat merasa tidak punya harapan dan kehilangan jalan pulang. Di akhir podcast, suara korban terdengar tenang, tanpa tangis. Bukan karena ia kuat, tapi karena isolasi panjang telah membuatnya pasrah. Ia hanya berdoa agar bisa bertemu orang tuanya lagi, apa pun kondisinya.
Tanda Bahaya yang Terabaikan
Yang mengejutkan, kekerasan ini diduga terjadi di permukiman padat dan kawasan kos. Ada banyak tanda yang seharusnya menimbulkan kecurigaan: suara benturan dari dalam kamar, korban yang terlihat lemah, pintu yang selalu dikunci dari luar. Tapi, kenapa tidak ada yang bertindak?
Pengalaman pendampingan korban kekerasan menunjukkan, tanda-tanda bahaya sering tidak benar-benar tersembunyi. Rumah yang terus tertutup rapat, suara aneh, atau seseorang yang tiba-tiba menghilang, semua itu adalah sinyal. Namun, banyak orang memilih diam karena takut ikut campur, mencari masalah, atau berhadapan dengan pelaku. Padahal, diam bisa berarti membiarkan seseorang berjuang sendirian melawan kekerasan.
Negara yang Terlambat
Negara pun baru bergerak setelah korban dirawat di rumah sakit. Dalam banyak kasus lain, negara bahkan baru hadir setelah korban meninggal. Padahal, di setiap lingkungan ada aturan 'tamu wajib lapor'. Kita sibuk mengecek siapa yang datang dan pergi, tapi lupa melihat tanda bahaya di sekitar kita.
Kasus ini mengingatkan kita, kepekaan dan kepedulian bisa menjadi celah pertama yang membuka kesempatan korban untuk selamat. Jangan biarkan diam menjadi senjata yang memperpanjang penderitaan. Saatnya kita berani bertanya, berani peduli, dan berani bertindak.