Pernahkah Bunda mendengar mitos bahwa kesuburan pria selalu lebih unggul karena produksi sperma yang terus-menerus? Nyatanya, anggapan itu mulai tergeser. Sebuah studi global dari Max Planck Institute for Demographic Research (MPIDR), Divisi Kependudukan PBB, dan Universitas Oslo menemukan bahwa sejak tahun 2024, secara global perempuan memiliki tingkat kesuburan total yang lebih tinggi daripada laki-laki.
Mengapa Bisa Terjadi?
Para peneliti menggunakan data Prospek Populasi Dunia PBB dan metode demografi-statistik untuk mengevaluasi dampak ketidakseimbangan populasi terhadap kesuburan. Hasilnya, pergeseran ini terjadi karena meningkatnya proporsi laki-laki dalam populasi. Tren penurunan angka kematian dan penyempitan kesenjangan harapan hidup antara perempuan dan laki-laki turut memperkuat kondisi ini.
Kapan Transisi Terjadi?
Transisi kesuburan perempuan yang lebih tinggi tidak terjadi serempak di seluruh dunia. Di Eropa dan Amerika Utara, perubahan ini sudah berlangsung sejak era 1960-1970-an. Sementara di Amerika Latin baru beberapa tahun terakhir, dan di Oseania, Amerika Selatan, serta Asia, transisi baru dimulai belakangan ini.
Apa Dampaknya bagi Kita?
Peningkatan proporsi pria dalam populasi membuat perbedaan tingkat kesuburan antar gender semakin melebar. Hal ini menimbulkan tantangan, terutama bagi pria yang tidak memiliki anak di luar kendali mereka—sebuah kondisi yang kerap dikaitkan dengan kesehatan lebih buruk dan kebutuhan perawatan di usia tua. Para peneliti menekankan perlunya solusi kebijakan segera, seperti memperkuat peran perempuan di masyarakat untuk mencegah aborsi berbasis gender, meningkatkan akses pendidikan dan lapangan kerja bagi pria lajang, serta menyediakan dukungan sosial dan teknologi reproduksi bagi mereka yang ingin memiliki anak.
“Jika tantangan ini tidak diatasi, bisa memicu reaksi budaya yang merugikan kesetaraan gender dan stabilitas sosial,” ungkap tim peneliti.
Nah, Bunda, informasi ini tentu membuka wawasan baru tentang dinamika kesuburan di era modern. Semoga bermanfaat!