Siang itu, suasana toko reparasi alat rumah tangga di Celukan Bawang, Gerokgak, Bali terasa hangat. Di sudut ruangan, seorang perempuan muda bernama Nur terlihat sibuk menggendong buah hatinya yang masih balita. Ketika ditanya tentang usaha reparasi yang dijalaninya, ia sempat tersipu dan menjawab singkat, "Wah, saya kurang paham, Mbak. Saya di sini cuma jaga toko kalau suami sedang pergi."

Namun, siapa sangka, di balik jawaban sederhana itu, tersimpan pengetahuan yang mendalam. Saat obrolan beralih ke keseharian, Nur mulai bercerita tentang keterlibatannya dalam melayani pelanggan dan memahami proses perbaikan. "Kalau untuk kipas angin, sebenarnya kami berdua bisa menerima perbaikan. Tapi kadang kami sarankan pelanggan beli baru saja, karena biaya perbaikan mungkin lebih murah tapi hasilnya nggak bertahan lama," ungkapnya.

Fenomena Tersembunyi di Balik Usaha Keluarga

Kisah Nur bukanlah kasus yang terisolasi. Sosiolog Janet Finch menyebut fenomena ini sebagai incorporated wives, yaitu istri yang secara tidak resmi terserap ke dalam pekerjaan atau usaha suaminya tanpa pengakuan yang layak. Finch menegaskan bahwa kontribusi para istri sering kali dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan bukan sebuah beban yang perlu diakui. Para istri sendiri lebih memandang peran mereka sebagai bentuk kemitraan dan dukungan.

Penelitian yang dilakukan Kopernik pada awal tahun 2026 terhadap 22 praktisi reparasi di Gerokgak dan Gianyar, Bali, menemukan bahwa hanya empat di antaranya adalah perempuan. Mereka berperan sebagai pemilik toko, penjahit, atau penerima pesanan di toko reparasi elektronik. Data ini menunjukkan bahwa pembagian peran berbasis gender masih kuat dalam ekosistem reparasi.

Mega: Pemilik Usaha yang Menguasai Segalanya

Di Sukawati, Gianyar, kami menemui Mega, seorang perempuan berusia 41 tahun yang menjalankan usaha reparasi elektronik bersama suaminya. Saat kami tiba, perhatian kami sempat tertuju pada dua teknisi laki-laki yang sedang sibuk memperbaiki TV dan audio. Namun, setelah beberapa saat, Mega menghampiri kami dan menunjukkan pemahamannya yang luar biasa tentang bisnis ini.

"Untuk TV, kami tidak menerima merek lama karena sulit mencari spare part-nya. Kalau ada pelanggan yang ingin servis TV, kami minta mereka memberi kabar jauh hari supaya kami bisa membeli flyback-nya. Stok kami terbatas," jelasnya. Mega juga mengaku sering harus menolak pelanggan karena keterbatasan peralatan, meski keputusan itu kerap membuatnya merasa tidak enak.

Mengapa Keahlian Perempuan Sering Tak Terlihat?

Baik Nur maupun Mega, keduanya memiliki pemahaman yang mendalam tentang usaha reparasi. Namun, mereka jarang mendapat pengakuan sebagai teknisi. Akademisi Inggris Cynthia Cockburn menjelaskan bahwa pekerjaan teknis sering dianggap sebagai ranah maskulin. Akibatnya, perempuan yang menguasai bidang ini dianggap sebagai pengecualian, bukan hal yang lazim.

Kondisi ini membuat kompetensi yang dimiliki Nur dan Mega luput dari sorotan. Padahal, dengan pengakuan yang lebih baik, potensi mereka bisa dimanfaatkan untuk memperkuat ekosistem reparasi.

Minat Reparasi Perempuan Ternyata Tinggi

Survei yang dilakukan Kopernik terhadap 223 rumah tangga menunjukkan bahwa 52 persen responden tertarik mengikuti lokakarya reparasi sederhana. Menariknya, hampir separuh dari mereka (42,5 persen) adalah perempuan. Temuan ini sejalan dengan data dari 22 bengkel yang dikunjungi, di mana 44 persen barang rusak telah diperbaiki sendiri atau melalui teknisi informal. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding tingkat reparasi nasional yang hanya mencapai empat persen.

Sayangnya, lebih dari separuh barang rusak masih diganti dengan yang baru atau dibiarkan begitu saja. Salah satu penyebabnya adalah keterbatasan jumlah teknisi. Padahal, Survei YouGov pada 2021 menunjukkan bahwa 63 persen masyarakat Indonesia lebih memilih memperbaiki barang daripada menggantinya, salah satu preferensi tertinggi di dunia. Ini artinya, minat untuk memperbaiki sudah ada, tetapi belum didukung oleh ekosistem yang memadai.

Kisah Nur dan Mega adalah pengingat bahwa di balik setiap usaha reparasi, ada perempuan yang bekerja keras tanpa pamrih. Sudah saatnya kita membuka mata dan memberikan apresiasi yang layak bagi mereka.