Diabetes gestasional adalah kondisi di mana kadar gula darah meningkat selama kehamilan. Meski umumnya hilang setelah melahirkan, kondisi ini tetap perlu diwaspadai karena bisa membawa risiko bagi ibu dan bayi. Namun, kenapa hanya sebagian ibu hamil yang mengalaminya?
Penyebab Utama: Kombinasi Hormon, Genetik, dan Gaya Hidup
Menurut para ahli, tidak ada satu faktor tunggal yang menyebabkan diabetes gestasional. Ini adalah hasil interaksi kompleks antara hormon kehamilan, faktor keturunan, dan kebiasaan sehari-hari.
Peran Hormon Plasenta
Selama kehamilan, plasenta melepaskan hormon yang secara alami membuat sel-sel tubuh kurang sensitif terhadap insulin (resistensi insulin). Pada kehamilan normal, ini membantu menyalurkan glukosa ke janin. Namun, pada sebagian ibu, resistensi ini menjadi berlebihan sehingga gula darah menumpuk di aliran darah.
"Ketidakseimbangan hormon plasenta bisa memicu resistensi insulin yang parah, dan itulah yang meningkatkan risiko diabetes gestasional," jelas seorang pakar dari University of Newcastle.
Faktor Genetik dan Riwayat Keluarga
Genetik juga memegang peranan penting. Ibu hamil dengan riwayat keluarga dekat (orang tua atau saudara kandung) yang menderita diabetes tipe 2 memiliki risiko lebih tinggi. Selain itu, variasi genetik tertentu pada hormon dapat membuat kerjanya kurang efektif.
Gaya Hidup: Berat Badan Berlebih
Memulai kehamilan dengan berat badan berlebih atau kenaikan berat badan yang terlalu cepat di trimester awal merupakan faktor risiko utama. Meski perubahan gaya hidup membantu, pakar menekankan bahwa hal itu tidak selalu menjamin pencegahan penuh.
"Yang terbaik adalah mengoptimalkan kesehatan sebelum hamil. Setelah hamil, fokusnya bukan menurunkan berat badan, melainkan mengelola kenaikan berat badan secara sehat," tambahnya.
Jadi, meski tidak bisa dihindari sepenuhnya, menjaga pola makan dan aktivitas fisik tetap dianjurkan untuk meminimalkan risiko dan dampak diabetes gestasional pada bayi.