Publik masih terus membicarakan kasus penyekapan dan penganiayaan yang dilakukan Taufik Hidayat (30) terhadap kekasihnya, YTR, selama tiga tahun. Setelah sempat buron, Taufik akhirnya ditangkap di kawasan Majalaya, Kabupaten Bandung, pada Selasa (23/6/2026). Kini, ia tengah menjalani pemeriksaan intensif di Polda Jawa Barat.

Tak lama setelah penangkapan, keluarga Taufik angkat bicara. Ayahnya, Tata, mengungkapkan bahwa Taufik adalah anak ketiga dari empat bersaudara dan merupakan anak kesayangannya. Alasan di balik perlakuan istimewa itu pun membuat banyak orang geleng-geleng kepala: karena paras Taufik yang dianggap lebih tampan dari saudara-saudaranya.

“Benar (paling) disayang. Ganteng gitu lah, beda dari yang (saudara) lain,” kata Tata dalam podcast bersama Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, seperti dikutip dari kanal YouTube KANG DEDI MULYADI CHANNEL.

Pola Asuh yang Bermasalah

Dalam perbincangan tersebut, Tata juga mengakui bahwa ia kerap memanjakan Taufik dan membelanya saat berkelahi dengan orang lain. “Di antara ketiga anak laki-laki, ini (Taufik) paling ganteng. Karena paling ganteng, sehingga oleh bapak selalu dibela. Waktu kecil kalau berkelahi sama orang, bapak belain ya?” tanya Dedi. “Iya,” jawab Tata singkat.

Lebih mengejutkan lagi, Tata mengungkapkan bahwa Taufik pernah memukul kepalanya dengan kayu hanya karena lapar. “Pernah dipukul kepala pakai kayu. Waktu itu saya sedang bekerja di sawah. Dia lagi di rumah, nganggur. Mau makan, enggak ada ikan. Saat itu, ibunya sudah tidak ada,” cerita Tata. “Dia datang ke sawah, langsung pukul. Untung saya ada teman dua orang, jadi ditolong. Habis itu dia kabur mungkin selama satu minggu, lalu kembali dan minta maaf sambil nangis.”

Mendengar pengakuan tersebut, Dedi Mulyadi berkomentar bahwa sikap memaafkan tanpa konsekuensi tegas justru menunjukkan Taufik memang anak yang dimanja. “Ya karena itu, kalau sampai orang tua dipukul oleh anaknya pakai kayu dan orang tuanya memaafkan, itu cermin anak dimanja,” kata Dedi.

Pengakuan Taufik dan Kondisi Korban

Sementara itu, Kapolda Jabar Irjen Rudi Setiawan mengungkapkan bahwa Taufik mengakui semua perbuatannya dan menyatakan penyesalan. Ia menyebut tindakannya dilakukan di bawah pengaruh alkohol. “Setiap hari ini konsumsi alkohol, selalu berdebat dan bercekcok dengan kekasihnya, dan terjadilah penganiayaan seperti itu,” ujar Rudi.

Setelah kejadian, Taufik sempat melarikan diri ke Tangerang, namun kembali ke Jawa Barat karena merasa tidak aman. Polisi berhasil melacaknya melalui aktivitas transaksi. Hasil tes urine menunjukkan Taufik negatif narkoba.

Kondisi YTR, korban penyekapan dan penganiayaan, kini mulai membaik. Bibinya, Erni, mengatakan YTR sudah bisa diajak berkomunikasi dan bersemangat untuk pulih. Namun, keluarga masih menjaga kondisi psikisnya. “Kami ingin pelaku dihukum seberat-beratnya. Masa depan (korban) masih panjang, dia baru 29 tahun. Keponakan saya sudah cacat. Kondisinya mengkhawatirkan,” ungkap Erni.

Refleksi bagi Orangtua

Kasus ini menjadi pengingat bahwa memanjakan anak secara berlebihan, terutama karena alasan fisik seperti ketampanan, dapat berdampak buruk pada perkembangan karakter anak. Anak yang terlalu dimanja cenderung tumbuh dengan rasa berhak, kurang empati, dan sulit mengendalikan emosi. Penting bagi orangtua untuk memberikan kasih sayang yang seimbang, disiplin yang konsisten, dan mengajarkan tanggung jawab sejak dini.