Kalau kamu aktif di media sosial, pasti pernah melihat momen suporter Jepang yang setia memunguti sampah di stadion setelah pertandingan. Mereka memunguti botol plastik, bungkus makanan, hingga sobekan tiket, meninggalkan tribun yang nyaris bersih. Publik dunia memuji, menyebutnya sebagai bukti budaya disiplin dan tanggung jawab.

Budaya Gomi Hiroi yang Sudah Mengakar

Di Jepang, kebiasaan ini disebut gomi hiroi—memungut sampah. Nilai ini ditanamkan sejak kecil, bahkan di sekolah anak-anak rutin membersihkan kelas sendiri. Bukan hanya soal kebersihan, tapi juga tentang rasa memiliki terhadap ruang publik. Ketika suporter Jepang melakukannya di luar negeri, mereka menganggapnya sebagai bentuk penghormatan kepada tuan rumah.

Kritik yang Tak Terhindarkan

Meski menuai pujian, suara kritis justru datang dari masyarakat Jepang sendiri. Mereka mempertanyakan: apakah aksi ini tulus atau hanya pencitraan? Lebih dalam lagi, kritik ini menyoroti beban kerja domestik yang tidak merata di Jepang. Budaya bersih-bersih seringkali menjadi tanggung jawab perempuan, terutama di rumah tangga. Sementara itu, suporter yang mayoritas laki-laki mendapat pujian publik hanya karena membersihkan stadion—sesuatu yang di rumah jarang mereka lakukan.

Sejumlah feminis Jepang menilai gomi hiroi di stadion adalah contoh nyata dari performative cleaning: bersih-bersih yang terlihat heroik di ruang publik, namun tidak mencerminkan keseharian di rumah. Mereka menyebutnya sebagai bentuk 'pencucian citra' yang mengalihkan perhatian dari isu domestik yang lebih mendesak.

Dampak Sosial dan Harapan ke Depan

Terlepas dari kontroversi, gomi hiroi memiliki dampak positif. Aksi ini menginspirasi suporter negara lain untuk ikut membersihkan stadion, menciptakan efek domino kebaikan. Namun, kritik yang ada membuka diskusi tentang pentingnya membagi tanggung jawab domestik secara adil, bukan hanya saat ada kamera.

Jadi, lain kali saat kamu melihat aksi bersih-bersih suporter Jepang, ingatlah bahwa di balik kebaikan itu ada pekerjaan rumah yang belum tuntas. Mari kita dukung kebersihan, tapi juga perjuangkan kesetaraan di rumah sendiri.