Pernahkah kamu membayangkan menikmati nasi hangat dan lauk segar di tengah padang pasir? Itulah yang dihadirkan PT Halalan Tayyiban Indonesia (HATI) bagi jemaah haji Indonesia. Baru-baru ini, perusahaan ini mendapat apresiasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) atas konsistensinya dalam menerapkan Program Manajemen Risiko (PMR) di industri pangan.
Mengubah Persepsi Makanan Siap Saji
Selama ini, makanan siap saji kerap dianggap tidak enak dan penuh pengawet. Owner PT HATI, Puspo Wardoyo, mengakui tantangan terbesar adalah mengedukasi masyarakat bahwa produk Meal Ready to Eat (MRE) berbeda. "Produk kami tanpa bahan pengawet, bisa disimpan pada suhu ruang, tapi rasanya tetap seperti makanan segar," ujarnya.
Berkat teknologi pengolahan modern, cita rasa masakan rumahan tetap terjaga meski dalam kemasan. Bahkan pada musim haji tahun lalu, hampir 99% kebutuhan makanan jemaah Indonesia dipasok oleh PT HATI. Ini bukti bahwa inovasi pangan dapat memenuhi kebutuhan praktis tanpa mengorbankan kualitas.
Standar Keamanan yang Ketat
Direktur Utama PT HATI, Sugiri, menekankan pentingnya PMR sebagai standar keamanan pangan. "Concern utama BPOM adalah food safety. Dampaknya sangat besar jika makanan tidak aman," jelasnya. Pendampingan BPOM sudah berlangsung sejak 2019, dan sertifikasi PMR mulai diimplementasikan pada 2024 melalui bimbingan teknis, evaluasi, dan audit menyeluruh.
Setelah mendapatkan sertifikasi, PT HATI wajib melaporkan implementasi sistem setiap enam bulan. Menjelang musim haji, BPOM juga melakukan audit langsung ke fasilitas produksi untuk memastikan semua proses berjalan aman sebelum produk dikirim ke Arab Saudi.
Apresiasi dari BPOM
Kepala BPOM, Prof. dr. Taruna Ikrar, menyebutkan bahwa PMR kini diterapkan tidak hanya di industri besar, tapi juga UMKM. Dari ribuan pelaku industri, hanya tujuh perusahaan yang mendapat apresiasi, termasuk PT HATI. "Kami melihat berapa lama program dijalankan, kepatuhan terhadap ketentuan, dan perkembangan industri. Tidak mudah memutuskan," paparnya.
Setiap tahun, PT HATI melakukan validasi menu baru yang akan diekspor. Proses ini memakan waktu tiga hingga empat bulan sebelum produk dinyatakan memenuhi standar keamanan pangan. Untuk musim haji 2026, perusahaan mengirimkan sekitar 2 juta porsi makanan siap saji untuk jemaah selama puncak ibadah di Armuzna.
Bahan Baku Alami dari Indonesia
Semua produk dibuat menggunakan bahan baku alami asli Indonesia tanpa pengawet. Langkah ini tidak hanya menjamin keamanan pangan, tetapi juga mendorong pertumbuhan sektor pertanian, peternakan, dan industri pangan nasional. Dengan begitu, setiap suapan makanan jemaah haji turut memajukan ekonomi dalam negeri.
Apresiasi dari BPOM menjadi angin segar bagi PT HATI untuk terus berinovasi. Kepercayaan konsumen pun semakin kuat, karena produk ini telah melewati uji ketat dari otoritas berwenang. Jadi, bagi kamu yang mungkin masih ragu dengan makanan siap saji, produk MRE dari PT HATI bisa menjadi pilihan tepat saat menjalani ibadah haji.