Bayangkan, dari puncak popularitas dengan jadwal syuting 15-16 jam sehari, tiba-tiba semua tawaran menghilang. Itulah yang dialami Xu Peng, aktor berusia 30 tahun yang namanya melambung lewat drama mikro atau short drama di Tiongkok. Sejak Maret lalu, setelah proyek terakhirnya selesai, tak ada lagi panggilan untuk syuting. Penyebabnya? Kemajuan kecerdasan buatan (AI) yang kian mendominasi industri produksi konten.
Dari Panggung ke Pasar
Alih-alih meratapi nasib, Xu Peng memilih pulang ke kampungnya di Provinsi Shandong. Di sana, ia membantu kakeknya bercocok tanam dan menjual hasil panen di pasar tradisional. Setiap pagi, ia mengendarai mobil listrik milik keluarga untuk mengangkut sayuran segar ke pasar. Meski banyak teman dan kerabat yang heran dengan keputusannya, Xu Peng tetap tegar.
“Menjadi aktor hanyalah sebuah pekerjaan. Kalau tidak ada peran yang bisa dimainkan, saya akan mencari cara lain untuk mencari nafkah. Selama saya bekerja keras dan mencari rezeki dengan jujur, tidak ada rintangan yang tidak bisa saya lewati,” ujarnya dengan rendah hati.
Kisah Viral yang Menginspirasi
Cerita perjuangan Xu Peng pun menyebar luas di media sosial. Foto dan video dirinya berjualan sayur menuai banyak pujian dari warganet. Mereka mengapresiasi sikap rendah hati dan semangatnya untuk tetap bekerja secara jujur. Tak sedikit penggemar yang datang langsung ke pasar untuk memberikan dukungan.
Drama Mikro dan Gempuran AI
Xu Peng dikenal luas melalui perannya sebagai CEO dingin dan dominan dalam berbagai drama mikro populer. Genre ini sempat menjadi ladang emas bagi para aktor, namun kini berubah drastis. Teknologi AI mampu memangkas biaya produksi secara signifikan, sehingga banyak produser beralih ke konten buatan AI. Data menunjukkan bahwa dari sekitar 128.000 drama mikro yang dirilis pada kuartal pertama 2026, lebih dari 95% diproduksi dengan bantuan AI.
Kondisi ini membuat banyak aktor kehilangan pekerjaan, termasuk Xu Peng. Namun alih-alih menyerah, ia memilih tetap produktif dengan membantu usaha keluarga sambil menunggu pintu rezeki lain terbuka. Kisahnya menjadi pengingat bahwa di tengah perubahan zaman, kerja keras dan kejujuran tetap menjadi nilai yang tak lekang oleh waktu.