Sudah 11 tahun sejak TUKU pertama kali membuka pintunya di Cipete Raya pada 2015. Kini, mereka telah berkembang menjadi 80 toko yang tersebar di 11 kota, bahkan hingga Amsterdam. Namun, bagi TUKU, kesuksesan bukan hanya soal angka. Pertumbuhan sejati adalah kemampuan untuk tetap dekat dengan komunitas, tetap membumi, dan relevan di tengah perubahan.
Lebih dari Sekadar Kopi
Setiap hari, lebih dari 85.000 cangkir kopi dinikmati oleh para pelanggan setia yang mereka sebut 'tetangga'. Di balik setiap cangkir, ada 1.096 barista, cook, helper, dan crew yang bekerja keras menjaga kualitas dan kehangatan. Kopi bukan sekadar minuman, melainkan jembatan yang menghubungkan banyak orang.
Tantangan dan Kinerja Positif
Meskipun menghadapi tantangan ekonomi, perubahan iklim yang memengaruhi karakter biji kopi, dan dinamika rantai pasok, TUKU tetap mencatatkan kinerja positif. Pendapatan mereka meningkat 44 persen dibanding tahun lalu, dengan CAGR tiga tahun mencapai 68 persen. EBT tumbuh 9 persen dan laba bersih naik 8 persen. Bagi TUKU, ini adalah bukti bahwa kolaborasi dan hubungan yang baik dengan para tetangga adalah kunci utama.
Kepedulian pada Lingkungan dan Komunitas
TUKU juga serius dalam menjaga keberlanjutan. Mereka telah menanam lebih dari 13.000 pohon MPTS di Garut dan Kapuas Hulu bersama Yayasan Tanah Air Semesta dan Bumiterra. Dalam pengelolaan limbah, mereka bekerja sama dengan Waste4Change, DUITIN, dan Envmission untuk menangani lebih dari 1.124 ton sampah operasional. Tak hanya itu, TUKU juga memberdayakan 40 perempuan pengrajin di Gunung Sindur untuk mengolah limbah kemasan kopi menjadi tas bernilai guna.
Perayaan Kumpul Tetangga TUKU
Puncak perayaan ulang tahun ke-11 adalah acara Kumpul Tetangga TUKU, yang menghadirkan 11 tokoh dari ekosistem TUKU—petani, barista, mitra UMKM, dan penjaga nilai lainnya. Mereka adalah representasi dari perjalanan panjang yang penuh cerita.
CEO & Founder TUKU, Andanu Prasetyo, mengungkapkan rasa syukurnya. 'Terima kasih kepada seluruh tetangga yang sudah berjalan bersama kami selama sebelas tahun. Semua yang kami lakukan adalah bentuk rasa syukur. TUKU bukan hanya tentang kopi, tetapi tentang berbagi cerita, berbagi hari, dan berbagi hidup.'
Melalui semangat Sewelas Asih, TUKU menegaskan bahwa perjalanan mereka tidak pernah sendiri. Kehadiran para tetangga adalah bagian penting dari setiap langkah. Bersama, mereka terus berkomitmen menggerakkan ekonomi lokal dari hulu ke hilir.