Bagi sebagian besar perempuan, gambaran melahirkan identik dengan posisi berbaring telentang di ranjang rumah sakit. Namun, ternyata posisi ini bukanlah yang paling alami. Selama ribuan tahun, perempuan di berbagai budaya justru melahirkan dalam posisi tegak, seperti jongkok, berlutut, atau duduk. Lalu, bagaimana posisi telentang bisa menjadi begitu populer?
Sejarah di Balik Posisi Telentang
Pergeseran ini terjadi sekitar abad ke-17, terutama dipengaruhi oleh dokter kandungan asal Prancis, François Mauriceau. Dalam bukunya, ia merekomendasikan persalinan di tempat tidur dengan posisi telentang karena dianggap lebih memudahkan pemeriksaan medis. Namun, ada juga teori lain yang menyebutkan bahwa Raja Louis XIV ikut berperan. Konon, ia suka menyaksikan proses melahirkan dan merasa posisi telentang memberikan pandangan yang lebih jelas.
Sejak saat itu, praktik obstetri modern mulai mengadopsi posisi telentang sebagai standar, terutama di rumah sakit. Kemudahan bagi tenaga medis menjadi alasan utama, meskipun faktanya posisi ini kurang optimal secara fisiologis bagi ibu.
Mengapa Posisi Tegak Lebih Alami?
Janet Balaskas, pendiri Active Birth Centre, menjelaskan bahwa posisi tegak seperti jongkok memanfaatkan gravitasi untuk membantu bayi turun. Posisi ini juga bisa memperbesar diameter panggul hingga 2,5 cm, sehingga memudahkan proses persalinan. Penelitian menunjukkan bahwa ibu yang melahirkan dalam posisi tegak cenderung mengalami persalinan lebih singkat, risiko operasi caesar lebih rendah, dan lebih jarang menggunakan epidural.
Selain itu, posisi tegak membantu kontraksi bekerja lebih efektif dan menjaga aliran darah serta oksigen ke janin tetap optimal. Ini tentu kabar baik bagi Bunda yang ingin menjalani persalinan alami.
Kapan Posisi Telentang Diperlukan?
Meski posisi tegak memiliki banyak manfaat, bukan berarti posisi telentang sepenuhnya salah. Dalam situasi tertentu, seperti saat ibu menggunakan epidural, mengalami komplikasi, atau memerlukan pemantauan intensif, tenaga kesehatan mungkin menyarankan posisi telentang atau setengah telentang. Yang terpenting adalah komunikasi antara Bunda dan dokter atau bidan untuk menentukan posisi yang paling aman dan nyaman.
Pada akhirnya, setiap ibu berhak mendapatkan informasi lengkap agar bisa membuat keputusan terbaik untuk dirinya dan bayinya. Jangan ragu untuk bertanya dan mendiskusikan pilihan posisi melahirkan dengan tenaga kesehatan.