Beberapa tahun terakhir, nama Dewi Sandra memang jarang menghiasi layar kaca. Bukan tanpa alasan, pelantun lagu “Tak Cukup Sampai di Sini” ini memutuskan untuk mengurangi aktivitasnya di dunia hiburan. Baginya, ada hal yang jauh lebih penting untuk dikejar, yaitu kedekatan dengan Sang Pencipta.
Perjalanan menuju hidayah ini bukanlah sesuatu yang instan. Semua berawal dari kegelisahan batin yang terus menghantuinya seiring bertambahnya usia. Dewi mulai mempertanyakan esensi kehidupannya di dunia yang fana ini.
Pertanyaan Besar Tentang Hidup dan Kematian
Saat direnungkan, banyak manusia yang terjebak dalam rutinitas tanpa pernah bertanya, “Untuk apa sebenarnya aku hidup?” Hal yang sama juga dirasakan oleh Dewi. Ia mengaku sering bertanya-tanya tentang tujuan hidupnya, terutama setelah menyadari bahwa kematian pasti akan menjemput setiap orang.
“Semakin berumur, kita selalu bertanya, mau ngapain sih di dunia ini? Tujuan hidup gue apa? Nanti kan gue pasti mati, enggak ada manusia yang lolos dari kematian. Kalau gue mati, apa selanjutnya?” ujarnya dalam sebuah kesempatan.
Baginya, hidup bukan sekadar bekerja, menikah, punya anak, lalu menua dan mati. Ada sesuatu yang lebih dari itu. Pertanyaan-pertanyaan filosofis ini terus menghantuinya hingga akhirnya membawanya pada pencarian jati diri yang sesungguhnya.
Titik Balik: Kehilangan Ibu dan Gagalnya Pernikahan
Dua peristiwa besar dalam hidupnya menjadi pemicu utama untuk berubah. Pada tahun 2008, ibunda tercinta meninggal dunia. Tak lama berselang, pernikahannya dengan Glenn Fredly juga harus berakhir. Kedua momen pilu ini datang silih berganti dan membuatnya merasa seperti dipaksa untuk berhenti sejenak.
“Sampai akhirnya di satu fase, aku kehilangan ibu dan gagal di pernikahan kedua. Itu makin membuatku sadar, ‘oke setop’. Kayaknya aku sedang melakukan sesuatu yang salah, tapi aku tidak paham salahnya apa,” ungkap wanita berdarah Inggris ini.
Dari situlah ia mulai menyadari bahwa hidup ini bukan miliknya sepenuhnya. Ada pemilik sejati yang menitipkan napas dan ruh dalam jasadnya. Ia pun mulai bertanya-tanya, “Apa yang diinginkan oleh pemilikku?” Pertanyaan ini menjadi pintu pembuka untuk mengenal Islam lebih dalam.
Belajar dari Nol: Mengenal Islam Lewat Kajian
Memulai hijrah bukanlah perkara mudah bagi Dewi. Ia tumbuh di keluarga dengan latar belakang agama yang beragam. Ayahnya ateis yang kemudian mualaf, sementara ibunya muslim. Ia juga menempuh pendidikan di sekolah internasional dengan gaya hidup kebarat-baratan. Alhasil, pengetahuannya tentang Islam sangat minim.
“Aku tumbuh di keluarga, ayahku ateis sampai akhirnya mualaf, ibuku muslim. Aku sekolah di sekolah internasional, gaya bule juga ada di darahku. Banyak faktor yang membuatku terpapar dengan apa yang aku pahami. Aku enggak pernah dapat pendidikan di sekolah Islam atau madrasah,” kenangnya.
Meski begitu, ia tidak patah semangat. Perlahan tapi pasti, Dewi mulai mengikuti kajian-kajian Islam. Ia belajar memahami arti salat sebagai sarana komunikasi dengan Allah. Ia pun menyadari bahwa selama ini ia terlalu sering meminta tolong pada manusia yang justru mengecewakannya.
Menemukan Kedamaian dan Cinta pada Allah
Semakin dalam ia menyelami ajaran Islam, semakin besar pula ketenangan yang ia rasakan. Dewi mengaku mendapat pertolongan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Ia pun mulai jatuh cinta pada Allah dan merasa bahwa selama ini ia terlalu jauh dari-Nya.
“Akhirnya belajar dan alhamdulillah dikasih jalan sama Allah, ketemu dengan orang-orang baik, bisa duduk di kajian, bisa dengar ayat-ayat Allah. Rasanya keren banget, aku enggak pernah dengar ini sebelumnya,” tuturnya dengan mata berbinar.
Kisah hijrah Dewi Sandra ini menjadi inspirasi bahwa tidak ada kata terlambat untuk kembali ke jalan yang benar. Semoga kita semua juga diberikan kemudahan untuk terus mendekatkan diri pada Allah, ya.