Pernahkah kamu membayangkan seorang pria yang diam-diam berjuang melawan gangguan makan? Mungkin terdengar asing, tetapi kenyataannya, semakin banyak pria yang mengalaminya. Mereka mungkin terlihat bugar di gym, tapi di balik itu, ada obsesi terhadap bentuk tubuh yang tidak sehat.
Mengapa Kasus pada Pria Sering Terlewat?
Stigma sosial menjadi penghalang terbesar. Pria yang mengalami gangguan makan sering merasa malu karena kondisi ini dianggap 'feminin'. Mereka takut dianggap lemah atau tidak maskulin. Akibatnya, mereka cenderung menyembunyikan gejalanya dan enggan mencari bantuan.
Selain itu, banyak tenaga medis yang masih memiliki bias bahwa gangguan makan hanya dialami perempuan. Hal ini membuat diagnosis pada pria sering terlambat, bahkan terlewat sama sekali.
Gejala yang Berbeda pada Pria
Gejala gangguan makan pada pria tidak selalu sama dengan perempuan. Jika perempuan cenderung membatasi makan atau memuntahkan makanan, pria lebih sering menggunakan olahraga berlebihan sebagai cara untuk mengontrol berat badan. Mereka juga lebih fokus pada pembentukan otot, bukan sekadar menjadi kurus.
Fenomena ini dikenal sebagai muscle dysmorphia atau 'Adonis Complex', di mana seseorang terobsesi untuk memiliki tubuh berotot dan ramping. Sekitar 60 persen remaja laki-laki mengaku tidak puas dengan bentuk tubuh mereka, terutama pada bagian dada dan lengan.
Dampak Serius yang Mengintai
Keterlambatan penanganan membawa risiko yang tidak main-main. Pria dengan gangguan makan memiliki risiko kematian lebih tinggi karena kondisi mereka biasanya sudah parah saat akhirnya terdiagnosis. Selain itu, gangguan makan juga bisa memicu depresi, kecemasan, dan bahkan keinginan untuk bunuh diri.
Beberapa kelompok pria bahkan lebih rentan, seperti pria transgender, remaja LGBTQ+, dan veteran perang. Mereka membutuhkan dukungan ekstra dan pendekatan yang lebih sensitif.
Pentingnya Dukungan dan Perawatan yang Tepat
Sayangnya, banyak program perawatan gangguan makan yang masih berpusat pada pengalaman perempuan. Padahal, pria membutuhkan pendekatan yang berbeda. Mereka perlu merasa diterima dan dipahami dalam lingkungan terapi.
Kesadaran akan gangguan makan pada pria harus terus digalakkan. Kita bisa mulai dengan membuka percakapan, menghilangkan stigma, dan mendorong pria untuk berani mencari bantuan. Ingat, gangguan makan bukanlah 'masalah perempuan' — ini masalah kesehatan yang bisa menyerang siapa saja.
Jika kamu atau orang terdekatmu mengalami gejala gangguan makan, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan profesional. Semakin cepat ditangani, semakin besar peluang untuk pulih.