Sebagai orang tua, kita tentu ingin memberikan yang terbaik untuk buah hati, termasuk dalam hal makanan. Namun, tahukah Bunda bahwa komentar-komentar kecil tentang berat badan atau pilihan makanan anak bisa berdampak besar pada kesehatan mentalnya? Belakangan ini, istilah 'almond mom' atau 'almond parenting' ramai diperbincangkan di media sosial. Istilah ini merujuk pada gaya pengasuhan yang terlalu fokus pada makanan dan bentuk tubuh anak, bahkan cenderung memaksakan pola makan yang sangat ketat.
Fenomena ini pertama kali viral setelah potongan video dari acara Real Housewives of Beverly Hills kembali dibagikan. Dalam video tersebut, model Yolanda Hadid terlihat menasihati putrinya yang masih remaja, Gigi Hadid, yang mengeluh lemas setelah hanya makan setengah butir almond. Yolanda pun menjawab, "Makanlah beberapa almond dan kunyahlah dengan benar." Meski Yolanda kemudian menjelaskan bahwa komentarnya diambil di luar konteks, video ini memicu perbincangan luas tentang bagaimana orang tua dapat secara tidak sadar menanamkan budaya diet yang tidak sehat kepada anak-anak mereka.
Apa yang Dimaksud dengan 'Almond Mom'?
'Almond mom' adalah istilah untuk orang tua yang memberikan nasihat atau kebiasaan makan yang tidak sehat kepada anaknya, seperti memaksakan diet ketat demi menjaga berat badan tetap rendah. Menurut dokter anak Karla Lester, MD, gaya parenting ini sangat mengkhawatirkan karena tidak hanya tidak bermanfaat, tetapi juga berbahaya bagi tumbuh kembang anak. "Fenomena ini adalah spektrum yang berakar pada budaya diet, bias internal, fobia terhadap kegemukan, dan proyeksi ketakutan orang tua terhadap tubuhnya sendiri," jelas Lester.
Lebih lanjut, Lester menjelaskan bahwa 'almond mom' bisa menjadi perpanjangan dari gangguan makan yang dialami orang tua. Mereka percaya bahwa anak akan lebih baik jika lebih kurus, sehingga tanpa sadar mereka meneruskan keyakinan tersebut. Padahal, cara pandang seperti ini justru bisa merusak hubungan anak dengan makanan dan tubuhnya sendiri.
Dampak Negatif pada Citra Tubuh Anak
Orang tua memang berperan besar dalam membentuk cara anak memandang dirinya. Jika Bunda sering mengomentari berat badan atau makanan anak, bisa jadi si kecil akan merasa malu atau tidak percaya diri dengan tubuhnya. Sebuah penelitian di jurnal Sex Roles tahun 2023 menemukan bahwa rasa malu terhadap tubuh dapat menyebabkan penurunan kesejahteraan mental, seperti gangguan makan dan depresi. Anak yang tidak puas dengan tubuhnya juga cenderung memiliki harga diri yang rendah.
Yang perlu diingat, tidak semua orang tua sadar telah mempromosikan budaya diet. Banyak yang melakukannya secara tidak sengaja melalui kebiasaan sehari-hari, seperti selalu menghitung kalori atau menyebut makanan tertentu sebagai 'baik' dan 'buruk'. Padahal, contoh perilaku makan yang tidak teratur dari orang tua sangat mudah ditiru oleh anak.
Cara Menanamkan Kebiasaan Makan Sehat tanpa Menjadi 'Almond Mom'
Kabar baiknya, Bunda bisa membangun kebiasaan makan sehat pada anak tanpa harus menjadi 'almond mom'. Berikut beberapa cara yang bisa dicoba:
- Hindari mempermalukan anak karena makanannya. Alih-alih memberi label 'baik' atau 'buruk' pada makanan, cobalah gunakan bahasa yang lebih positif. Misalnya, saat anak makan wortel, Bunda bisa bilang, "Wortel itu keren, bisa bikin mata kita sehat!" Jika anak ingin makan kue, hindari larangan keras. Katakan saja, "Kue enak ya, tapi kita makan nanti ya, sekarang kita makan sup dulu."
- Libatkan anak dalam persiapan makanan. Ajak si kecil membantu mencuci sayuran, mengaduk adonan, atau menyusun lauk di piring. Anak yang terlibat dalam memasak biasanya lebih berani mencoba makanan baru dan tidak pilih-pilih.
- Berikan contoh yang baik. Anak adalah peniru ulung. Jika Bunda ingin si kecil makan sehat, Bunda juga harus memberi contoh dengan mengonsumsi makanan bergizi dan sesekali menikmati camilan tanpa merasa bersalah. Tunjukkan bahwa makan adalah kegiatan yang menyenangkan, bukan sumber stres.
Ingat, tujuan utama adalah membangun hubungan yang positif antara anak dan makanan. Dengan begitu, si kecil akan tumbuh dengan pemahaman bahwa makanan adalah sumber energi dan kenikmatan, bukan musuh yang harus dilawan. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bunda!