Pernahkah kamu merasa lelah dengan persaingan yang terus dipupuk di sekitarmu? Terutama di dunia kerja atau industri kreatif, kita sering diadu satu sama lain. Olivia Rodrigo, penyanyi yang dikenal lewat lagu-lagu patah hatinya, ingin mengubah narasi itu lewat sebuah festival musik yang ia beri nama Daisy Chain Fields.

Festival yang digelar di Irvine, California ini bukan sekadar ajang hiburan. Di sana, ribuan perempuan datang dengan mahkota bunga daisy di rambut, gaun bernuansa flora, dan aksesori buatan tangan. Suasananya hangat dan terasa seperti pertemuan besar para sahabat, bukan sekadar konser biasa.

Semua Musisi Setara di Atas Panggung

Yang membuat festival ini begitu istimewa adalah cara ia disusun. Tidak ada nama besar yang lebih menonjol dari yang lain. Di poster resminya, semua nama musisi ditulis dengan huruf yang sama besar. Tidak peduli apakah mereka legenda seperti Garbage atau pendatang baru seperti Chappell Roan.

Bahkan jadwal tampilnya pun diatur agar tidak ada yang bentrok. Penonton bisa menyaksikan semua penampil tanpa harus memilih salah satu. Ini berbeda jauh dengan festival lain yang sering membuat pengunjung harus mengorbankan satu artis demi artis lainnya.

Melawan Budaya Kompetisi yang Toksik

Selama bertahun-tahun, industri musik memang sering menjebak musisi perempuan dalam persaingan yang tidak sehat. Mereka dibanding-bandingkan, baik dari segi prestasi maupun popularitas. Padahal, hal ini hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu yang ingin memecah belah.

Data dari Book More Women menunjukkan bahwa hanya sekitar 21,6 persen musisi utama di festival-festival besar dunia yang diisi oleh perempuan. Angka ini sangat timpang dan menggambarkan betapa sulitnya perempuan untuk mendapatkan tempat yang setara.

Olivia Rodrigo ingin melawan pola ini. Lewat Daisy Chain Fields, ia ingin menunjukkan bahwa perempuan bisa saling mendukung dan menginspirasi, bukan bersaing secara tidak sehat. Eli, salah satu penampil termuda di festival ini, mengatakan bahwa lingkungan yang dibangun Rodrigo sangat penting untuk membuat karya perempuan dihargai tanpa tekanan kompetitif.

Aksi Nyata: Semua Keuntungan Disumbangkan

Yang lebih menakjubkan lagi, festival ini tidak berorientasi pada keuntungan finansial. Semua musisi yang tampil sepakat untuk tidak menerima bayaran. Seluruh keuntungan bersih yang mencapai sekitar Rp354 miliar disumbangkan kepada 10 organisasi non-profit yang fokus pada kesehatan, keadilan sosial, dan kesejahteraan perempuan.

Dua di antaranya adalah Planned Parenthood dan Jhpiego, yang bekerja untuk meningkatkan akses layanan kesehatan di lebih dari 35 negara. Ini adalah langkah nyata untuk memastikan bahwa festival ini benar-benar membawa dampak sosial, bukan sekadar acara seremonial.

Inspirasi dari Lilith Fair

Rodrigo tidak sendirian dalam perjuangan ini. Ia terinspirasi oleh Lilith Fair, festival serba perempuan yang digagas oleh Sarah McLachlan pada akhir 1990-an. Saat itu, Lilith Fair berhasil membuktikan bahwa festival dengan semua penampil perempuan bisa sukses secara finansial dan membawa perubahan sosial.

Dalam sebuah dokumenter berjudul Lilith Fair: Building a Mystery, Rodrigo mengaku bahwa festival tersebut sangat memengaruhi visi kariernya. Bahkan, ketika ia mulai merencanakan festivalnya sendiri, Sarah McLachlan adalah orang pertama yang ia hubungi untuk meminta restu dan dukungan.

Perlawanan di Tengah Krisis Hak Perempuan

Langkah Rodrigo ini menjadi semakin relevan di tengah ancaman terhadap hak-hak perempuan di berbagai belahan dunia. Banyak pemimpin dengan ideologi maskulin yang mencoba membatasi kebebasan perempuan. Namun, lewat Daisy Chain Fields, Rodrigo menunjukkan bahwa ada cara lain untuk melawan: dengan keindahan, kebersamaan, dan aksi nyata.

Festival ini mengajarkan kita bahwa kita tidak harus selalu bersaing untuk menjadi yang terbaik. Justru dengan saling mendukung, kita bisa mencapai hal yang jauh lebih besar. Ini adalah pelajaran yang bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di tempat kerja maupun dalam hubungan sosial kita.