Setiap bulan Agustus, gegap gempita karnaval sound horeg selalu mewarnai berbagai kampung di Jawa Timur. Pengeras suara raksasa dengan dentuman bass yang menggelegar memang mampu mengubah suasana jadi lebih meriah. Namun, di balik kemeriahan itu, ada saja warga yang harus menutup telinga atau bahkan menjauh dari rumah karena tak tahan dengan kebisingannya.
Dua Sisi Mata Koin Sound Horeg
Fenomena ini memang punya penggemar setia. Sebuah survei yang melibatkan 1.250 responden warga Jawa Timur menunjukkan bahwa hampir separuh dari mereka pernah langsung mengikuti acara sound horeg atau cek sound. Hanya segelintir yang benar-benar tidak mengenal istilah ini. Artinya, sound horeg sudah mendarah daging dalam budaya perayaan masyarakat setempat.
Namun, popularitas ini ternyata tidak serta-merta membuat semua orang merasa nyaman. Survei yang sama mengungkap bahwa 81,5 persen responden menilai kegiatan ini dapat mengganggu lingkungan. Jadi, sound horeg itu ibarat dua sisi mata koin: di satu sisi sangat populer, di sisi lain memicu banyak keluhan.
Keluhan yang Paling Sering Muncul
Banyak orang mengira masalahnya cuma soal suara yang terlalu keras. Padahal, keluhan warga jauh lebih beragam. Hasil survei menunjukkan bahwa mayoritas responden merasa sound horeg mengganggu kenyamanan orang sakit dan anak-anak. Tak hanya itu, banyak juga yang khawatir dengan potensi kerusakan rumah, seperti kaca atau genteng yang bisa pecah atau retak.
- Kenyamanan orang sakit dan anak-anak: 73,82 persen
- Potensi kerusakan rumah: 72,19 persen
- Risiko gangguan pendengaran: 67,59 persen
- Polusi suara: 49,90 persen
- Masalah sampah dan lingkungan kotor: 46,83 persen
Selain itu, ada juga kekhawatiran tentang besarnya iuran yang harus dibayar warga untuk menyelenggarakan acara ini. Tak jarang, iuran tersebut dirasa memberatkan, apalagi bagi mereka yang kondisi ekonominya pas-pasan. Bahkan, tak sedikit yang mengeluhkan dampak setelah acara, seperti sampah berserakan atau potensi keributan.
Seberapa Keras Sebenarnya Sound Horeg?
Menjawab pertanyaan ini tidaklah mudah. Tingkat kebisingan sound horeg sangat bervariasi, tergantung pada jenis perangkat, volume, jarak pendengar, dan durasi pemutaran. Beberapa pengukuran informal menggunakan aplikasi ponsel menunjukkan bahwa suara yang dihasilkan bisa melebihi 100 desibel, yang sudah berada di atas ambang batas aman bagi pendengaran manusia.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memperingatkan bahwa paparan suara keras secara berlebihan dapat menyebabkan gangguan pendengaran permanen. Risiko ini semakin besar jika seseorang berada terlalu dekat dengan sumber suara atau terlalu lama berada di lingkungan yang bising.
Dampak yang Lebih Luas dari Sekadar Telinga
Kebisingan yang ekstrem bukan hanya mengganggu pendengaran. Penelitian menunjukkan bahwa paparan kebisingan berlebihan dapat menyebabkan gangguan tidur, stres, dan bahkan masalah kognitif. Bayangkan jika Anda memiliki bayi atau orang tua yang sedang sakit, tentu suara bising akan sangat mengganggu istirahat mereka.
Di sisi lain, sound horeg juga membawa dampak positif. Bagi banyak warga, acara ini menjadi ajang berkumpul dan mempererat tali silaturahmi. UMKM lokal juga ikut diuntungkan karena banyak orang berbondong-bondong datang untuk menonton.
Mencari Titik Tengah
Lantas, bagaimana solusinya? Yang jelas, pelarangan total bukanlah jawaban yang bijak. Perlu ada dialog antara panitia, peserta, dan warga sekitar untuk mencapai kesepakatan. Beberapa hal yang bisa dipertimbangkan adalah membatasi volume suara, menentukan jam operasional yang wajar, dan menyediakan zona aman bagi warga yang tidak ingin terpapar kebisingan.
Pada akhirnya, sound horeg adalah cermin budaya kita yang penuh semangat dan kegembiraan. Namun, kita juga harus ingat bahwa kenikmatan seseorang tidak seharusnya menjadi penderitaan orang lain. Dengan saling menghargai, kita bisa menikmati hiburan ini tanpa merugikan siapa pun.