Selama ini kita sering menganggap kepribadian terbentuk dari pengalaman hidup, didikan orang tua, dan lingkungan pergaulan. Namun, sebuah studi kolaboratif berskala internasional baru-baru ini menemukan bukti kuat bahwa DNA juga memainkan peran signifikan dalam membentuk siapa diri kita.
Penelitian yang melibatkan puluhan ribu partisipan dari berbagai negara ini berhasil mengidentifikasi lebih dari 1.200 varian genetik yang terkait dengan lima dimensi utama kepribadian, yang dikenal sebagai Big Five personality traits. Kelima dimensi tersebut meliputi keterbukaan terhadap pengalaman, kedisiplinan, ekstroversi, keramahan, dan kecenderungan neurotik.
Bukan Satu Gen, Melainkan Ribuan Varian Kecil
Temuan ini bukan berarti ada satu gen tunggal yang menentukan apakah kamu introvert atau ekstrovert. Sebaliknya, kepribadian dipengaruhi oleh akumulasi efek dari banyak varian gen dengan pengaruh yang sangat kecil. Setiap varian hanya memberikan kontribusi minor, tetapi ketika digabungkan, dampaknya bisa cukup berarti.
Ted Schwaba, peneliti utama dari Michigan State University, menegaskan bahwa tidak ada "gen kepribadian" tunggal. DNA tidak bekerja seperti cetak biru sederhana yang menentukan karakter seseorang sejak lahir. Yang terjadi adalah interaksi rumit antara banyak varian gen kecil dengan berbagai faktor lain sepanjang hidup.
Menariknya, pola genetik tertentu tetap konsisten di berbagai kelompok masyarakat. Varian yang terkait dengan ekstroversi pada orang dewasa muda di Belanda, misalnya, juga dapat memprediksi kecenderungan serupa pada orang lanjut usia di Amerika Serikat. Ini menunjukkan bahwa hubungan antara gen dan kepribadian memiliki dasar yang universal.
Gen Berkaitan Erat dengan Berbagai Aspek Kehidupan
Yang membuat penelitian ini semakin menarik adalah temuan bahwa varian genetik yang terkait dengan kepribadian juga berhubungan dengan berbagai aspek kehidupan lainnya. Pola genetik tersebut dikaitkan dengan kesehatan fisik dan mental, umur panjang, tingkat pendidikan, pilihan karier, pendapatan, hingga bagaimana seseorang dipandang oleh orang-orang terdekatnya.
Bahkan kebiasaan sehari-hari pun tampaknya memiliki kaitan genetik. Misalnya, varian yang berkaitan dengan kedisiplinan cenderung membuat seseorang lebih aktif pada siang hari. Sementara varian yang terkait dengan keterbukaan dan ekstroversi berhubungan dengan kecenderungan menjadi "night owl" atau lebih aktif pada malam hari.
Schwaba mencontohkan bahwa varian yang berkaitan dengan neuroticism berhubungan dengan lebih banyaknya waktu yang dihabiskan di rumah sakit. Sedangkan varian yang berhubungan dengan keterbukaan juga dikaitkan dengan pendapatan dan kecenderungan berpindah pekerjaan.
Gen dan Lingkungan Saling Memengaruhi
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa gen dan lingkungan tidak bekerja secara terpisah. Keduanya dapat saling berinteraksi dan bahkan memperkuat satu sama lain. Contohnya, varian genetik yang terkait dengan keterbukaan juga berhubungan dengan kemungkinan seseorang pindah ke lingkungan yang lebih kosmopolitan.
Pilihan lingkungan semacam itu kemudian berpotensi memberikan pengalaman baru yang kembali memengaruhi atau memperkuat karakter keterbukaan seseorang. Artinya, kita bukan sekadar menerima pengaruh dari gen maupun lingkungan secara pasif. Kecenderungan bawaan kita juga dapat memengaruhi pilihan lingkungan yang kemudian membentuk pengalaman hidup kita.
Meskipun gen memiliki peran penting, bukan berarti kepribadian kita sudah "ditakdirkan" sejak lahir. Pengalaman hidup, lingkungan sosial, pendidikan, kebiasaan, dan berbagai faktor lain tetap ikut membentuk bagaimana kita berpikir, merasa, dan bertindak.
Implikasi untuk Masa Depan
Temuan ini membuka peluang penelitian yang lebih luas. Studi mengenai genetika kepribadian di masa depan dapat membantu ilmuwan memahami hubungan antara karakter manusia dengan kesehatan, pendidikan, pekerjaan, hingga kualitas hidup. Dengan pemahaman yang lebih baik, genetika kepribadian tidak hanya menjadi kajian psikologi, tetapi juga dapat memberikan perspektif baru bagi bidang kedokteran, kesehatan masyarakat, pendidikan, dan dunia kerja.
Jadi, meskipun gen berperan besar, kita tetap memiliki kendali atas hidup kita. Kepribadian bukanlah takdir yang tidak bisa diubah. Dengan kesadaran dan usaha, kita dapat mengembangkan diri ke arah yang lebih baik.