Belakangan ini, istilah incel atau involuntary celibate semakin sering terdengar. Komunitas ini berisi individu yang merasa tidak mampu mendapatkan pasangan dan cenderung menyalahkan perempuan atas kondisi mereka. Lebih dari sekadar keluhan, ideologi ini telah memicu sejumlah kasus kekerasan, termasuk pembunuhan massal di Toronto pada 2018 silam. Anggota incel meyakini bahwa perempuan harus dikendalikan dan sering kali merasa terpinggirkan oleh norma maskulinitas yang kaku.
Yang lebih mengkhawatirkan, anak lelaki kita bisa terpapar paham ini secara diam-diam melalui algoritma media sosial. Lalu, bagaimana caranya agar mereka tidak terjebak dalam lingkaran kebencian ini? Berikut beberapa strategi parenting yang bisa kita terapkan di rumah.
1. Hancurkan Bias Gender Sejak Dini
Norma maskulinitas yang kaku sering menjadi pintu masuk bagi incel untuk memengaruhi anak lelaki. Mereka diajarkan bahwa laki-laki harus tangguh, tidak boleh menangis, dan dominan. Padahal, tekanan untuk selalu tampil kuat justru bisa merusak kesehatan mental. Sebagai orang tua, kita perlu mematahkan stereotip ini.
Contohnya, biarkan anak lelaki kita bermain boneka atau memilih warna pink jika itu membuatnya nyaman. Seperti yang dilakukan Tua Maratua, seorang ayah yang membebaskan anaknya mengoleksi boneka beruang. Menurutnya, bermain boneka bisa membantu anak meregulasi emosi dan melatih motorik halus. Raya, seorang ibu tunggal, juga tidak melarang anaknya memakai baju warna pink. "Yang penting dia nyaman," ujarnya.
Dengan memberikan kebebasan berekspresi, anak akan belajar bahwa tidak ada aktivitas atau sifat yang khusus untuk gender tertentu. Ini adalah langkah awal untuk mencegah mereka mencari validasi di komunitas yang salah.
2. Ajarkan Kesetaraan dalam Kehidupan Sehari-hari
Incels percaya bahwa perempuan tidak bisa dipercaya dan harus dikendalikan. Untuk menangkalnya, kita harus menanamkan nilai kesetaraan gender pada anak. Caranya bisa dimulai dari pembagian tugas rumah tangga yang adil.
Tua Maratua dan istrinya selalu berbagi peran, misalnya Tua menemani anak mengerjakan PR sementara istrinya memasak, dan sebaliknya. "Kami tidak melekatkan satu tugas hanya pada saya atau istri saya," jelasnya. Anak akan melihat bahwa pekerjaan rumah bukanlah ranah gender tertentu.
Raya menambahkan, anak adalah peniru ulung. Di meja makan, ia biasa melibatkan anak dalam pengambilan keputusan dengan mendengarkan pendapat ibunya. "Jadi anak belajar bahwa pendapat perempuan juga penting," tuturnya. Kebiasaan kecil ini akan membentuk pola pikir anak bahwa semua orang setara.
3. Bangun Komunikasi Terbuka dan Empati
Anak lelaki sering kali merasa tertekan untuk memenuhi ekspektasi maskulin, sehingga mereka enggan bercerita tentang masalah emosional. Padahal, keterbukaan adalah kunci agar mereka tidak mencari pelarian ke komunitas online yang toxic. Ciptakan suasana di rumah di mana anak merasa aman untuk mengungkapkan perasaannya tanpa takut dihakimi.
Dengarkan keluhannya dengan empati, dan ajarkan bahwa meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan. Jika anak menunjukkan tanda-tanda kebencian terhadap perempuan, jangan langsung memarahinya. Ajak dia berdiskusi dan jelaskan dampak buruk dari pandangan tersebut. Libatkan juga ayah atau figur laki-laki positif untuk memberikan contoh maskulinitas yang sehat.
4. Batasi Paparan Konten Negatif di Internet
Algoritma media sosial sering kali menampilkan konten yang sesuai dengan minat pengguna, termasuk konten yang mempromosikan ideologi incel. Awasi aktivitas online anak dan pasang filter parental control. Ajak anak untuk lebih kritis terhadap informasi yang mereka terima, dan diskusikan mengapa konten tertentu berbahaya.
Selain itu, dorong anak untuk mengikuti kegiatan positif di dunia nyata, seperti olahraga, seni, atau komunitas sosial. Semakin banyak interaksi sehat, semakin kecil kemungkinan mereka terpapar paham radikal.
Pada akhirnya, peran kita sebagai orang tua sangatlah penting. Dengan menanamkan nilai kesetaraan, menghancurkan bias gender, dan membangun komunikasi yang terbuka, kita bisa melindungi anak lelaki dari ideologi incel yang merusak. Mari mulai dari langkah kecil di rumah untuk menciptakan generasi yang lebih menghargai sesama.