Purbaya Yudhi Sadewa bukan tipe pejabat yang biasa-biasa saja. Sejak awal menjabat, ia sudah dijuluki 'menteri kagetan' karena gaya kerjanya yang cepat dan blak-blakan. Belum genap seminggu menjadi Menteri Keuangan, ia langsung memindahkan Rp200 triliun dana pemerintah dari Bank Indonesia ke lima bank Himbara. Tujuannya satu: agar uang yang menganggur bisa bergerak menjadi kredit dan menggerakkan sektor riil.

Pria yang mengaku bergaya koboi ini memang tak suka berlama-lama. Ia memberi kebebasan pada bank untuk menyalurkan dana sesuai mekanisme bisnis, dengan satu pesan tegas: jangan parkir dana di surat berharga. Jika bank bingung mencari proyek, pemerintah siap menyuplai daftar proyek yang bisa dibiayai.

Blak-blakan Soal Pajak

Dalam rapat di DPD RI, Purbaya kembali menunjukkan gaya blak-blakannya. Ia membeberkan upaya penanganan kebocoran pajak, dengan contoh 40 pabrik baja asal China yang tidak membayar pajak penuh. Petugas pajak sudah diperintah mengaudit, tapi tak dilaksanakan. Purbaya pun turun langsung melakukan sidak ke Pulogadung.

“Setelah kita periksa pajaknya, mereka punya utang ke saya minimal Rp200 miliar, kalau ditekan lagi mendekati Rp1 triliun,” tuturnya dalam rapat yang dimulai pukul sepuluh pagi itu.

Ia pun tak segan menyebut perusahaan China tersebut menyepelekan aturan Indonesia. “Itu kan menghina kita. Kita akan antem yang begitu-begitu, walaupun saya kelihatan ketawa-ketawa, ini kurang ajar,” tegasnya sambil menghantamkan kepalan tangan ke meja.

Gaya Santai dan Canda

Meski membahas angka-angka serius, rapat tak melulu tegang. Purbaya menyelipkan candaan tentang Dirjen Anggarannya yang disebut pelit. “Kalau nggak masuk akal, kalau bilang nggak mau, habis itu nggak masuk kantor dia. Pokoknya susah dicari,” selorohnya, disambut gelak tawa.

Purbaya juga dikenal tak gusar saat dikritik. Ketika Didik J Rachbini menyebut kebijakannya melanggar tiga undang-undang, ia justru menjawab, “Pak Didik salah undang-undangnya. Ini bukan perubahan anggaran, hanya uang kita dipindahkan saja. Saya sudah konsultasi dengan ahli-ahli hukum di Kemenkeu.”

Ia bahkan pernah menelepon sendiri Kring Pajak untuk mengetahui langsung bagaimana layanan Coretax bekerja. Baginya, mendengar laporan anak buah saja tidak cukup.

Akhir yang Tak Terduga

Pada 14 September 2026, gaya kerja itu masih terlihat di ruang rapat DPD. Namun, rapat terpaksa dijeda karena panggilan telepon dari Istana. Menteri Sekretaris Negara memanggil. Setelah jeda, Purbaya tak terlihat lagi. Tayangan langsung menampilkan Wakil Menteri PPN, Febrian Alphyanto Ruddyard, melanjutkan paparan.

Sementara itu, di Istana Kepresidenan yang jaraknya tak sampai sepuluh kilometer, Suahasil Nazara bersiap disumpah sebagai pengganti Purbaya. Pagi itu, Purbaya masih Menteri Keuangan. Saat pulang beberapa jam kemudian, ia bukan lagi menteri.

Dalam setahun, banyak hal terjadi. Purbaya menyebut Rp120 triliun keuntungan Danantara akan masuk kas negara sebagai cadangan anggaran. “Sudah dipastikan. Tinggal ditentukan kapan dia mau kirim, itu saja,” katanya. Ia pun mengakui Danantara sempat protes, tapi kebijakan itu sudah jadi keputusan Presiden Prabowo. “Saya terima aja, kan enak,” tutupnya.