Bagi Generasi Z, pakaian adalah pernyataan identitas. Wardrobe terus diperbarui mengikuti tren media sosial yang bergerak cepat. Model baru muncul sebelum yang lama sempat usang. Tapi pernahkah kita menyadari bahwa di balik gaya tersebut, ada dampak lingkungan yang mengintai?
Bahan Sintetis dan Mikroplastik
Mari kita periksa lemari masing-masing. Banyak pakaian favorit kita terbuat dari serat sintetis seperti polyester, nilon, acrylic, dan polypropylene. Menurut United Nations Environment Programme (UNEP), sekitar 60% material pakaian dunia berasal dari plastik. Masalah mulai muncul saat pencucian: serat plastik berukuran mikro terlepas dan terbawa air limbah hingga ke laut. UNEP memperkirakan tekstil menyumbang sekitar 9% mikroplastik di lautan.
Seberapa Besar Pelepasan Serat?
Jumlah serat yang dilepas berbeda-beda tergantung jenis kain. Penelitian Yapping Cai dan kolega dari lembaga riset Swiss (2020) menunjukkan bahwa struktur kain memengaruhi pelepasan serat. Studi lain pada 2024 dalam Environmental Pollution menguji lima bahan sintetis dan menemukan bahwa kain acrylic tenun melepaskan hingga 2.405 mikroserat, paling banyak di antara yang lain. Recycled polyester juga melepaskan lebih banyak mikroserat (1.193) dibandingkan polyester biasa (908). Kain tenun cenderung melepaskan lebih banyak serat dibandingkan kain rajut, dan kain yang lebih tebal serta berat juga berkontribusi lebih besar.
Di Indonesia, penelitian Putri Nur Rizkia (2022) dari UPN Veteran menemukan serat nilon, PET, dan polypropylene pada limbah laundry di Surabaya. Penelitian di Pontianak oleh Rizqa Khairunnisa dkk. dari Universitas Tanjungpura juga mendeteksi mikroplastik berbentuk fiber pada semua sampel pencucian, pembilasan, dan pengeringan. Tahap pencucian melepaskan paling banyak, rata-rata 2.239 partikel per liter. Faktor seperti deterjen, umur pakaian, dan sistem putaran mesin cuci turut memengaruhi.
Fast Fashion dan Peran Gen Z
Fast fashion memperparah masalah ini. Siklus tren yang cepat membuat pakaian diproduksi massal dengan harga terjangkau, didorong oleh media sosial. Penelitian dari Bina Nusantara University (2025) terhadap 307 responden Gen Z berusia 15–29 tahun menunjukkan bahwa mereka cenderung membeli produk fast fashion hingga tiga kali dalam enam bulan. Meski penelitian ini tidak mengukur pelepasan mikroplastik, data ini mengonfirmasi bahwa sebagian Gen Z berada dalam ekosistem fast fashion yang menggunakan serat sintetis.
Jadi, persoalannya bukan hanya seberapa banyak kita membeli pakaian, tetapi juga bahan yang dipakai, berapa lama dipakai, seberapa sering dicuci, dan bagaimana cara mencucinya. Langkah kecil seperti memilih bahan alami, mencuci dengan suhu rendah, atau menggunakan filter mikroplastik pada mesin cuci dapat mengurangi jejak mikroplastik kita. Mari lebih bijak dalam berbusana untuk bumi yang lebih baik.